Laporan munculnya kembali kasus virus Nipah di India dan Bangladesh sejak akhir 2025 menjadi perhatian banyak pihak. Sejumlah pasien dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kondisi berat. Meski hingga saat ini Indonesia belum melaporkan adanya kasus positif, situasi tersebut menjadi sinyal peringatan agar kewaspadaan masyarakat tidak menurun.
Virus Nipah dikenal sebagai penyakit menular berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia dan juga antarmanusia. Karena itu, pemahaman masyarakat tentang virus Nipah perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekilas Tentang Virus Nipah
Virus Nipah adalah virus yang berasal dari hewan. Penyakit ini termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis. Virus Nipah dapat menyerang tubuh manusia dan menyebabkan gangguan serius pada organ penting.
Menurut penjelasan dari World Health Organization, virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat serta peradangan pada otak. Hingga kini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Penanganan pasien masih difokuskan pada perawatan untuk menjaga kondisi tubuh.
Sumber Virus dan Cara Penularan
Sumber utama virus Nipah adalah kelelawar buah. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit. Virus kemudian dapat berpindah ke hewan lain, seperti babi, terutama jika ternak berada dekat dengan habitat kelelawar.
Manusia dapat terinfeksi melalui beberapa cara. Salah satunya adalah kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Cara lainnya melalui makanan dan minuman. Buah yang terbuka, jatuh, atau terlihat bekas gigitan kelelawar berisiko terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.
Selain itu, virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia. Penularan ini biasanya terjadi melalui kontak erat, terutama saat merawat pasien dengan kondisi berat dan banyak cairan tubuh.
Masa Inkubasi yang Sering Tidak Disadari
Virus Nipah memiliki masa inkubasi yang cukup panjang. Masa inkubasi adalah waktu antara masuknya virus ke dalam tubuh hingga munculnya gejala.
Pada sebagian besar kasus, gejala muncul dalam waktu 4 hingga 14 hari setelah terpapar. Namun, ada laporan yang menunjukkan gejala baru muncul setelah waktu yang lebih lama, bahkan lebih dari satu bulan. Pada masa ini, seseorang bisa terlihat sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa.
Kondisi tersebut membuat virus Nipah sulit dikenali sejak awal dan meningkatkan risiko penularan tanpa disadari.
Gejala Awal yang Perlu Diperhatikan
Gejala awal virus Nipah sering kali mirip dengan flu biasa. Karena itu, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa dirinya terinfeksi.
Gejala awal yang umum antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, dan muntah. Sebagian orang juga merasa lelah, pusing, dan tidak enak badan.
Jika seseorang mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat kontak berisiko, seperti bepergian ke daerah dengan laporan kasus atau sering berhubungan dengan hewan ternak, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan.
Gejala Berat yang Bisa Muncul
Pada sebagian pasien, kondisi dapat memburuk dengan cepat. Virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat, seperti pneumonia. Pasien bisa mengalami sesak napas dan membutuhkan perawatan intensif.
Virus ini juga dapat menyerang otak dan menyebabkan peradangan otak. Gejala yang muncul antara lain mengantuk berlebihan, kebingungan, perubahan perilaku, sulit berpikir jernih, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami koma dalam waktu singkat.
Tingginya Risiko Kematian
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi. Sekitar 40 hingga 75 persen pasien yang terinfeksi dilaporkan meninggal dunia. Risiko kematian meningkat jika pasien mengalami gangguan pernapasan berat atau gangguan saraf.
Selain dampak kesehatan, wabah virus Nipah juga dapat menimbulkan dampak ekonomi. Pada wabah sebelumnya, banyak hewan ternak harus dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus. Kondisi ini menyebabkan kerugian besar bagi peternak dan sektor pangan.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Karena belum tersedia obat dan vaksin, pencegahan menjadi langkah paling penting. Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah sederhana berikut.
Masyarakat diminta menghindari konsumsi buah yang terbuka, jatuh, atau terlihat bekas gigitan. Buah sebaiknya dicuci bersih dan dikupas sebelum dimakan. Jika ragu dengan kebersihannya, lebih baik tidak dikonsumsi.
Hindari minum nira atau air aren mentah. Minuman tersebut harus dimasak hingga mendidih sebelum diminum. Daging ternak harus dimasak hingga matang sempurna.
Biasakan mencuci tangan dengan sabun. Jika sedang sakit, gunakan masker dan batasi kontak dengan orang lain. Hindari kontak langsung dengan hewan yang sakit atau diduga terinfeksi.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis
Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam, batuk, atau sesak napas yang tidak kunjung membaik. Kewaspadaan perlu ditingkatkan jika memiliki riwayat bepergian ke daerah dengan laporan kasus virus Nipah atau pernah melakukan kontak berisiko.
Penanganan sejak dini sangat penting untuk menurunkan risiko komplikasi dan mencegah penularan lebih lanjut.
Tetap Waspada Tanpa Panik
Hingga kini, belum ada laporan resmi kasus virus Nipah di Indonesia. Namun, meningkatnya kasus di negara lain menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tidak boleh longgar. Dengan memahami cara penularan, mengenali gejala sejak awal, dan menerapkan langkah pencegahan sederhana, masyarakat dapat melindungi diri dan keluarga.
Sikap waspada, informasi yang benar, dan tindakan pencegahan yang konsisten menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit menular seperti virus Nipah.
